Cerita Vagina

Menu
Cerita Vagina

 Tradingan.com - Selama 30 menit kedepan, bak seorang instruktur kawakan aku mengajari Tante Vivi tentang penggunaan program aplikasi Windows dan Internet. Aku berusaha menjelaskan sesingkat dan seefisien mungkin agar tidak terlalu membuang banyak waktu, bagaimanapun aku jadi tidak enak juga karena hari sudah semakin malam. Kulirik arlojiku sudah hampir setengah 12 malam.


“Sudah malem Tante.., besok-besok khan masih bisa belajar Tante.., mm sekarang saya pulang dulu ya Tante..”, kataku sambil setengah berjalan hendak keluar kamar.
“Iya deh.., waah.., makasih ya Ar.., kamu pinter sekali mm.., Tante gimana harus ngucapin terima kasih sama kamu Ar.., hik.., hik..”, tanyanya sambil tertawa kecil.
“aah.., Tante ini ada-ada aja.., sudah deh.., sudah malem Tante..”, jawabku sambil berjalan keluar, Tante Vivi mengikuti di belakangku. Kami terdiam sejenak. Sambil berjalan aku tersenyum, “Gilaa..”, Tante Vivi begitu baik dan sopan, ternyata tak seperti yang aku duga dasar otak ngeres, bisikku dalam hati.

Dipintu depan, sekali lagi Tante Vivi mengucapkan banyak terima kasih, aku menyalaminya tangannya yang halus erat-erat. Aku sudah hendak membuka pintu depan, ketika tiba-tiba seekor laba-laba hitam yang cukup besar dengan kaki-kakinya yang panjang langsung meloncat ke lantai begitu tanganku memegang handle pintu, refleks tanganku kutarik ke belakang sambil meloncat mundur, aku tidak tahu dan tidak sengaja ketika diriku menabrak tubuh Tante Vivi, sontak ia terhuyung dan menjerit hendak jatuh. Namun dengan sigap walaupun tubuhku masih setengah merinding, aku langsung memegang lengan kanannya dan kutarik tubuhnya ke arahku. Dalam sedetik tubuhnya telah berada dalam pelukanku. Sweear.., saya memang tidak sengaja memeluk tubuhnya.

“Aduuh.., Ar.., ada apa sih kamu..”, pekiknya.
“Anuu Tante.., laba-laba gedhe..”, sahutku sambil memandang ke sekeliling ruangan, aku bener-benar senewen sekali rasanya. Sialaan, laba-laba sialaan ngagetin orang aja” bisikku dalam hati. Saat itu aku masih belum sadar kalau kedua tanganku masih memeluk tubuh Tante Vivi, maklum aku sendiri masih terasa merinding.

“Ar..”, bisik Tante Vivi di telingaku. Aku menoleh dan terjengah. Ya Ampuun, wajah cantiknya itu begitu dekat sekali dengan mukaku. Hembusan nafasnya yang hangat sampai begitu terasa menerpa daguku. Wajahnya kelihatan sedikit berkeringat, sorotan kedua matanya yang sedikit sipit kelihatan begitu sejuk dalam pandanganku, hidungnya yang putih mbangir mendengus pelan, dan bibirnya yang ranum kemerahan terlihat basah setengah terbuka.., duh cantiknya. Sejenak aku terpana dengan kecantikan wajahnya yang alami. Ada banyak kesamaan lekuk wajahnya yang cantik dengan wajah kekasihku Selva. Seolah teringat kemesraan dan kebersamaanku bersama Selva, seolah tanpa sadar dan tanpa dapat aku mencegahnya.., kudekatkan mukaku kepadanya. Kesemuanya seolah terjadi begitu saja tanpa aku mengerti sama sekali. Seolah ada magnet yang menuntun dan membimbingku di luar kesadaran.., dan dalam 2 detik bibirku telah mengecup lembut bibir Tante Vivi yang setengah terbuka. Begitu terasa hangat dan lunak. Kupejamkan kedua mataku menikmati kelembutan bibir hangatnya.., terasa manis.


Selama kurang lebih 10 detik aku mengulum bibirnya, meresapi segala kehangatan dan kelembutannya. Dan ketika aku menyadari bahwa Tante Vivi bukanlah Selva, maka..
” ooh..”, bisikku kaget, sesaat setelah kecupan itu berakhir. Dengan perasaan kaget bercampur malu aku melepaskan pelukanku. Aku memandang Tante Vivi dengan sejuta rasa bersalah, namun seolah tak yakin aku juga baru menyadari kalau Tante Vivi sama sekali tak memberontak ketika aku menciumnya. Kini yang aku lihat betapa wajahnya yang cantik kelihatan semakin cantik. Kedua pipinya yang putih bersih bersemu merah bak boneka barbie, kedua matanya yang sipit memandang redup kepadaku, sementara kedua belah bibirnya masih setengah terbuka dan merekah basah menawan hati. Lanjut baca!

  Tradingan.com  -  Selama 30 menit kedepan, bak seorang instruktur kawakan aku mengajari Tante Vivi tentang penggunaan program aplikasi Win...
Linda Lendir Jumat, 20 Februari 2026
Cerita Vagina

 Biodataviral.com - Tante Vivi menyuruhku datang malam ini ke rumahnya. Sebenarnya agak malas juga dan khawatir, bagaimanapun saya lebih senang mengajak Selva, pacarku untuk menemani, ini membuatku ragu-ragu untuk berangkat.

9.15 malam: Aku masih ragu-ragu.., berangkat.., tidak.., berangkat.., tidak.
9.25 malam: Akhirnya Tante Vivi tanpa kuduga benar-benar menelepon, kebetulan aku sendiri yang menerima.

“Lho.., Ar.., kok kamu belum berangkat, bisa dateng tidak Ar?”, tanyanya kendengaran agak kecewa.
“Mm.., gimana ya Tante.., agak gerimis nih di sini..”, sahutku beralasan.
“Masa iya Ar.., yaah.., kalo gitu Tante jemput aja yaa..”, balasnya seolah tak mau kalah. Aku jadi blingsatan dibuatnya.
“Waah.., tidak usah deh Tante.., okelah saya ke sana sekarang Tante.., mm Selva saya ajak ya Tante..”, sahutku kemudian. Aku pikir ke sana malm-malam mau tidak mau akhirnya pasti harus nginap. Kalau ada Selva kan aku tidak begitu risih, masa aku bawa Selva pulang malam-malam. Tapi..
“iih.., jangan Ar.., Selva jangan diajak.., mm pokoknya ke sini aja dulu Ar.., yaa.., Tante tunggu.., Klik”, sekali lagi seolah disengaja Tante Vivi langsung memutuskan hubungan. Sialan pikirku, dia mengerjaiku, ngapain malam-malam ke sana kaya tidak ada waktu siang atau pagi kek. Aku jadi kesal, ngapain Selva kemarin cerita kalau aku banyak ngerti masalah Komputer. Wuueek.., kaya pakar wae.., sekarang baru kena getahnya.

Akhirnya dengan perasaan malas, malam itu benar-benar agak gerimis, badanku sampai kedinginan terkena rintik air gerimis malam yang dingin
.Sekitar pukul 10.00 malam: Aku sampai juga di tempat Tante Vivi, suasana di komplek perumahan itu sudah sepi sekali, aku membuka pintu pagar yang sengaja belum dikunci dan kumasukkan sepeda motor ke dalam.
Belum sempat aku mengetuk pintu, ternyata Tante Vivi rupanya sudah mengetahui kedatanganku. Mungkin ia mendengar deru suara motorku ketika datang tadi.
“aahh.., akhirnya dateng juga kamu Ar..”, katanya ramah dari balik pintu depan.
“Iya.., Tante..”, sahutku berusaha ramah, bagaimanapun aku masih setengah kesal, sudah datang malam-malam kehujanan lagi.
“Agak gerimis ya Ar..”, tanyanya seolah tak mau tau.
“Hsii..”, Tanpa sadar aku terbersin.
“Eehh.., kamu Flu Ar..”, tanyanya kemudian.

Aku mengusap wajah dan hidungku yang setengah lembab terkena air gerimis. Tante Vivi menarik tanganku masuk ke dalam dan menutup pintu. “Klik..”, sekaligus menguncinya. Aku tak begitu memperhatikannya karena aku sendiri kuatir dengan kondisiku yang terasa agak meriang. Kuusap berulang kali wajahku yang dingin. Lalu tiba-tiba kurasakan sebuah telapak tangan yang hangat dan lembut membantu ikut mengusap pipi kananku.


“Pipimu dingin sekali Ar.., kamu pasti masuk angin yaa.., Tante bikinin susu jahe anget yaa..”, sahutnya lembut. Aku menoleh dan astaga wajahnya itu begitu dekat sekali dengan mukaku. “Duh.., cantiknya”. Kulitnya yang putih mulus dan halus, matanya yang hitam bulat sedikit sipit dengan bentuk alisnya yang hitam memanjang tanpa celak, hidungnya yang kecil bangir, dan bentuk bibirnya yang menawan tanpa lipstik. Terlihat sedikit tebal dan begitu ranum. Sexy sekali bibirnya. Tante Vivi tersenyum kecil melihatku setengah melongo.
“Kamu duduk dulu Ar.., Tante ke belakang dulu..”, sahutnya pelan. Lanjut baca!

  Biodataviral.com  -  Tante Vivi menyuruhku datang malam ini ke rumahnya. Sebenarnya agak malas juga dan khawatir, bagaimanapun saya lebih ...
Linda Lendir
Cerita Vagina

 Tradingan.com - Hari yang sangat berarti dalam hidupku, kami MENIKAH. Tidak ada orang yang menyaksikan, tidak ada resepsi, tidak ada tamu, keluarga, saudara, teman yang yang hadir, hanya aku, Rio dan penghulu. Rio memberiku cincin 10 gr dan seperangkat alat sholat. Kami hanya melakukan ijab qabul dan kamipun resmi menjadi suami istri.


Hari2ku bersama suami tercinta begitu sangat indah saat itu, ia membuatku sangat bahagia. Setiap hari ia menjemputku kekampus, pergi membeli perlengkapan bayi, periksa kehamilan ke RS, dia menemaniku dengan penuh cinta kasih dan kesabaran yang mendalam. Tidak terasa 10 hari aku bersamanya, diapun harus kembali ke Jakarta. Kembali kami dipisahkan, sangat berat rasanya bagi kami untuk berpisah tapi keadaan saat itu yang mengharuskan kami untuk saling berjauhan. Rio-ku berjanji untuk selalu mengunjungiku setiap bulan untuk menengok keadaanku dan menemaniku ke RS untuk memeriksa kehamilan. Walaupun sangat berat, aku harus melepaskan kepulangan Rio-ku.
Kembali aku sendiri. Kujalani aktifitasku seperti biasa. Semakin hari perutku semakin membesar yang membuatku membatasi kegiatanku karena aku merasa cepat lelah.

November’98 kehamilanku memasuki bulan ke7.
Bulan yang sangat berat buatku. Kembali aku dihadapkan dengan satu masalah yang sangat sulit aku pecahkan & sangat sulit dicari jalan keluarnya. Aku dihadapkan dengan jatuhnya liburan kuliah yang bertepatan dengan akan menikahnya kakakku. Tidak ada alasanku untuk tidak pulang ke Jakarta. Sedangkan kondisiku dengan perut yang sudah besar tidak memungkinkan untuk menemui orang tua dan keluargaku.

Rio kembali ia membuatku tenang, dia datang untuk membuatku tenang, tegar dan tabah. Dengan menggunakan pesawat, akhirnya aku kembali ke Jakarta. Kami langsung menuju Cilegon. Dengan keadaan yang sangat membuatku resah, kami berdua berusaha mencari jalan pemecahannya.

30 November 98.
Kembali aku harus berkorban demi cinta. Bertepatan dengan hari ulang tahunku yang ke-20, dan kehamilanku yang ke7 bulan, disalah satu RS di Jakarta aku menjalani oprasi Ceasar. Buah cintakupun lahir, dengan berat 2.95 panjang 48, PEREMPUAN. 6 hari aku dirawat dan akhirnya diperbolehkan pulang.

Aku, Rio dan buah cinta kami tinggal bersama di Cilegon. Tanpa sanak saudara dan keluarga yang mengetahuinya. Hari-hari kami kewati bersama, penuh dengan kebahagiaan. Terpancar dari wajah suami yang sangat aku cintai sinar kebahagiaan yang begitu besar. “ANDALUSIA” ya itulah nama indah yang diberikan Rio buat buah cinta kami, nama yang begitu indah dan penuh pengharapan.



Desember’98.
Kakakku menikah, aku dan Rio kembali ke Jakarta untuk menghadiri resepsi. Anak kami tinggal bersama pengasuhnya. Ketika aku menemui orang tuaku, aku dan Rio berakting seakan-akan baru datang dari Semarang dan akting kami pun berhasil. Dengan berbagai alasan, ku curi-curi waktu untuk dapat mengunjungi dan melihat anakku. Walau tidak lama aku dapat melihatnya tapi buatku itu sudah lebih daripada cukup. Saat hari raya tiba, aku dan Rio seperti main kucing-kucingan dari kelurga kami, kami saling bergantian menjaga Cia (nama panggilan anak kami). Lanjut baca!

  Tradingan.com  -  Hari yang sangat berarti dalam hidupku, kami MENIKAH. Tidak ada orang yang menyaksikan, tidak ada resepsi, tidak ada tam...
Linda Lendir
Cerita Vagina

 Aopok.com - Cinta kadang mendatangkan kebahagiaan & keindahan yang tiada tara, namun kadang semua itu harus berakhir dengan air mata & kesedihan yang amat mendalam. Kekuatan cinta dapat mengubah kehidupan seseorang berbalik 180 derajat, dapat menghipnotis hingga kita bisa lupa akan segala2nya, dengan kekuatan cinta pula seseorang mampu melakukan apa saja demi orang yang sangat dicintai. Kisah ini bukanlah karangan dari khayalan nafsu & sex semata, melainkan kisah yang memang benar-benar aku alami, aku akan berbagi pengalaman agar siapapun yang membacanya dapat mengambil hikmah dari kisahku ini, jangan sampai kejadian yang seperti aku alami ini terulang kembali.


Namaku Amelia, usia 23 thn, aku seorang karyawati sebuah perusahaan kontraktor asing dibilangan Jakarta. Berawal ketika aku duduk dibangku kls 3 disalah satu SMU Swasta di Jakarta.

Januari ’98,
Sepulang sekolah, aku dan 2 sahabatku Dian & Gita berencana untuk jalan-jalan di Pondok Indah Mall sekedar window shopping & ngeceng, yaah maklum deh namanya juga ABG, lagi ganjen-ganjen & rajin-rajinnya cari perhatiaan sama yang namanya cowok. Setelah ganti baju, kitapun berangkat dengan menggunakan BMWnya Gita, dia yang paling cantik dan tajir diantara kita b’2. Setelah puas puter-puter, kitapun makan di Olala caf, tempat yang tidak akan pernah aku lupakan. Sedang asik-asiknya kita ngobrol, salah satu pelayang datang menghampiri kami
“Maaf mba mengganggu, eem..mas-mas yang duduk dibelakang nitip salam tuh, ini ada es cream untuk mba b’3 dari mereka”
Spontan kami b’3 menoleh kearah cowok yang ditunjuk pelayan. Woow..ternyata 2 cowok yang ganteng, keren dan sungguh rapi,
“Psst, boleh juga tuh! Kayanya sih udah pada gawe tuh cowo” Gita dengan pelan memberi komentar tentang kedua cowok itu.

Singkat cerita kitapun berkenalan dan saling bertukar cerita. Rio dan Iqbal, ya itulah nama kedua cowok itu, mereka bekerja di salah satu perusahaan Jepang dibilangan Sudirman Jakarta. Rio memeng tidak seganteng Iqbal, tingginya kira-kira 180, badannya tegap, kulitnya bersih dan berkarisma, pokoknya enak dipandang deh. Hampir sejam kita ngobrol, aku dan kedua sahabatku putuskan untuk pulang, setelah saling bertukar no. telp. kitapun berpisah.

Setiba dirumah, aku masih benar-benar tidak bisa melupakan bayangan wajah Rio. Siapa sangka, tepat jam 9 malam telp. rumahku berdering, bergegas kuangkat,
“Selamat malam, bisa bicara dengan Amelia?” dengan cepat kujawab
“Ya malam, ini aku sendiri, siapa ya?”
“Rio”
Teeng..jantungku tiba-tiba berdetak kencang, aku sama sekali tidak menyangka kalau dia bakalan telp. Seneng, gembira, yaah pokoknya hapy banget deh. Kitapun ngobrol panjang lebar, nggak terasa 3 jam kami ngobrol. Dari situ aku ketahui kalau dia itu orang Bandung, S1 di Unpad Bandung, S2 di Jepang dan tinggal di Cilegon.



Sabtu, selesai jam sekolah, seperti biasa aku nggak langsung keluar kelas melainkan ngobrol dengan teman-teman kelasku, tiba-tiba HPku bunyi, kulihat dari layar ‘RIO” lagi nama itu membuat aku senang, bergegas kuangkat
“Hai mel, sudah pulang belum? Aku ada digerbang sekolah kamu nih”.
GERBANG, belum lagi kujawab, buru-buru aku keluar kelas dan kutengok kegerbang, yaa..RIO, dia duduk didalam mobil Taft hitam, tangannya masih memegang HP,
“Hai, aku ada diatas” sambil melambaikan tangan memberi kode keberadaanku, dia pun menoleh kearahku tersenyum menatapku.
Aku tanpa sadar loncat-loncat kegirangan, Lanjut baca!

  Aopok.com  -  Cinta kadang mendatangkan kebahagiaan & keindahan yang tiada tara, namun kadang semua itu harus berakhir dengan air mata...
Linda Lendir
Cerita Vagina

 Tradingan.com - Pagi itu sangat dingin, tapi aku memaksakan diri untuk membuka mataku walaupun sebenarnya ingin tinggal di tempat tidur di bawah selimut yang tebal.

“Aku harus bangun!” hanya itu yang berada di pikiranku sekarang,
Sehingga akupun bangkit berdiri menuju ke kamar mandi. Keadaan memang cepat berubah, sebulan yang lalu aku masih tinggal bersama mama dan papa tiriku, sekarang aku tinggal seorang diri. Dan secara otomatis aku harus mencari biaya hidup sendiri, karena aku tidak mau membebani mama dengan biaya hidupku. Untung aku cepat mendapat pekerjaan yang layak, yang mampu menghidupiku di kota yang cukup mahal ini. Sebuah perusahaan webdesign membutuhkanku sebagai assisten dalam bidang keuangan dan pemasaran.

Hujan rintik-rintik menemaniku memasuki fairground Cebit, salah satu pameran komputer terbesar di dunia yang berlangsung di Hannover. Perusahaan di mana aku bekerja menjadi salah satu pemilik stand di pameran ini. Untuk sementara aku tinggal di sebuah hotel yang lumayan besar di hannover zentrum.

Setelah aku memarkir mobilku dan mulai melangkah ke pintu masuk, aku mendengar suara yang tidak asing. Yah, beberapa orang bertampang Asia sedang berbicara Indonesia. Tidak aku sangka bahwa aku bakal bertemu orang Indonesia di pameran ini, dan hal itu terjadi di hari pertama. Sekilas aku mendengar bahwa mereka sedang membicarakan aku. Seorang yang berdasi biru berkata ke temannya, “wah yang ini pasti blasteran”. Dan mereka pun hanya bisa menebak-nebak sambil berbisik. Aku hanya tersenyum, sampai di depan pintu masuk salah satu dari mereka membiarkan aku masuk terlebih dahulu dan secara spontan aku mengucapkan terima kasih dalam bahasa Indonesia. Lama dia terdiam, sampai dia akhirnya mengejarku sambil meminta maaf, dan bermaksud meminta nomor teleponku. Dengan tertawa aku berkata bahwa aku tidak marah, karena tidak ada alasan untuk itu. Tetapi aku tidak memberikan langsung nomor teleponku, aku hanya memberitahu bahwa aku bekerja di salah satu stand di salah satu hall. Hanya sampai di situ pertemuanku dengannya karena aku harus cepat menuju standku.

Kesibukan Cebit yang luar biasa membuatku melupakannya, hingga tiba saat makan siang ketika pintu kantorku diketuk oleh seorang hostes yang bekerja di stand kami yang mengatakan bahwa ada seorang pria yang hendak bertemu denganku. Dengan sedikit heran aku mempersilakan masuk dan ternyata pria Indonesia tadi pagi. Dia mengulurkan tangan kanannya sambil berkata,
“Andre”
Dan saya pun menjawab,
“Lia.”
Dia mengajakku untuk makan siang bersama yang langsung kutolak karena banyaknya pekerjaan yang menungguku. Dan diapun mengerti keadaanku. Tak lama kemudian dia kembali lagi sambil membawa 2 kantong kertas yang berisi makanan. Dia masuk ke kantor dan memberikannya kepadaku sembari berkata bahwa aku harus makan. Saat itu hatiku trenyuh, apalagi setelah sekian lama tidak ada orang yang memperhatikanku, akhirnya aku menyuruh dia tinggal untuk makan bersamaku di kantorku. Sekitar 1 jam kami berbincang bincang, dia kembali bertanya tentang nomor teleponku yang akhirnya aku berikan kepadanya. Dia berjanji akan menelponku nanti malam setelah pameran tutup.

Setelah pameran hari pertama berakhir, kami berjanji untuk makan bersama di salah satu restoran di kota. Aku sempat kembali di hotel untuk mandi dan sedikit berdandan. Sekitar jam delapan malam, pintu kamarku diketuk dengan pelan. Aku pun membuka pintu itu dan Andre sudah berdiri di depan pintu. Di lobby menunggu 3 teman Andre lainnya. Di restoran kami banyak berbincang bincang, mengenai bisnis dan segala macam. 



Dari situ akhirnya aku tahu bahwa dia seorang atasan di sebuah kantor di Taiwan dan 3 orang temannya adalah bawahannya. Mereka sangat menyenangkan dan senang bercanda. Waktu berakhir terlalu cepat, sampai tiba waktunya untuk kembali di hotel. Andre mengantar teman-temannya terlebih dahulu sebelum dia mengantarku sampai depan pintu kamar. Sebelum aku masuk ke kamar dia memegang tanganku dan berkata,
“Lia kamu malam ini terlihat cantik sekali.”
Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih dan memberikan sebuah ciuman di pipinya sebagai ucapan selamat malam. Lanjut baca!

  Tradingan.com  -  Pagi itu sangat dingin, tapi aku memaksakan diri untuk membuka mataku walaupun sebenarnya ingin tinggal di tempat tidur ...
Linda Lendir
Cerita Vagina

 Aopok.com - Hari libur aku bingung mau kemana. Akhirnya kuputuskan mengikuti saja kemana kaki ini melangkah. Akhirnya menjelang siang aku terdampar di Pasar Minggu. Namanya juga tanpa tujuan, hanya mengikuti kemana kaki melangkah, aku juga tidak tahu mengapa aku sampai ke sini.

Tiba-tiba saja perutku berteriak minta diisi. Kuputuskan untuk ke rumah makan terdekat. Kulihat ada Es Teler 77. Aku masuk, pesan makan dan cari tempat duduk. Setelah celingukan ke sana kemari ternyata hanya tinggal satu tempat duduk saja yang kosong.

Akupun menuju ke sana. Kulihat di depanku ada seorang Ibu, tiga puluh lima tahunan kukira, sedang asyik menikmati makanannya.


“Permisi Bu, boleh saya duduk di sini?” tanyaku. Basa-basi yang tidak perlu sebenarnya. Toh aku makan di sini juga bayar. Tapi memang basa-basi kadang perlu dan juga menguntungkan.
“Silakan. Silakan saja, tempat itu kosong kok,” katanya ramah.
“Mari Bu, saya makan,” kataku lagi.

Ibu tadi tidak menjawab, hanya dengan isyarat mempersilakan aku untuk makan.

Aku makan dengan cepat dan segera semangkuk bakso telah habis tidak bersisa. Mangkuknya pun mungkin sudah tidak perlu dicuci lagi karena benar-benar tidak ada sisa sedikitpun. Ibu di depanku tadi memperhatikanku makan. Mungkin dia heran, ini orang kelaparan dari negeri mana tersesat sampai Pasar Minggu. Es kelapa yang menemani bakso pun mulai kuminum.

Kulihat wanita itu mengeluarkan sebungkus rokok putih dan mengeluarkan sebatang.

“Merokok?” katanya menawariku.
“Terima kasih, saya tidak merokok,” kataku.

Aku memang bukan perokok, paling kalau lagi kepingin sekali mau merokok minta saja sama teman. Aku sedapat mungkin tidak usah membeli rokok. Bukan masalah uangnya. Aku takut sekali aku membeli rokok, maka berikutnya aku jadi terbiasa membeli rokok, kecanduan dan tidak bisa meninggalkan rokok. Kalau minta teman paling hanya sebatang saja, lebih dari itu malu dong.

Nikmat sekali kelihatannya wanita itu merokoknya. Dari caranya menghisap asap rokok kelihatannya dia memang seorang perokok berat. Kuamati bentuk tubuh dan wajahnya sekilas mirip dengan artis Misye Arsita, hanya saja ia sedikit lebih tinggi dan gemuk. Oke juga.

“Dari mana dan mau ke mana Bu?” tanyaku iseng.
“Jalan-jalan aja. Sebentar mau ke Blok M,” jawabnya ramah. “Kalau anda ini mau ke mana?” ia balas bertanya.
“Sama. Cuma jalan-jalan. Hari libur pas lagi nggak punya acara,” jawabku.

Akhirnya dari sekedar basa-basi kamipun ngobrol lebih jauh. Namanya Novi, tinggal di Depok. Suaminya PNS, menjabat sebagai salah satu Kepala Seksi di sebuah kantor pelayanan pajak di Jakarta.

“Kalau boleh tahu ada acara apa ke Blok M?” tanyaku.
“Jam dua nanti ada acara demo tata rias wajah dari sebuah perusahaan kosmetik”.
“Ehmm, boleh saya temani ke Blok M. Saya juga lagi nggak ada kegiatan”.
“Boleh aja. Asal nggak ngeganggu acaramu”.
“Mau berangkat sekarang? Agak terlalu cepat, tapi lebih baik nunggu di sana sambil cuci mata di Blok M Plaza”.
“Boleh, ayo kita berangkat”.

Kami menyetop taksi dan segera naik.

“Blok M, Bang,” kataku kepada sopir taksi.
“Baik Pak,” katanya sambil menghidupkan argo.

Di perjalanan aku sengaja duduk agak merapat ke Novi sambil mengobrol. Dengan gerakan yang halus kuposisikan sikuku mendekat ke dadanya. Ketika taksi direm dengan mendadak maka dadanya menekan tanganku. Ia diam saja. Tes pertama lolos. Dengan lebih berani kudorong sikuku sampai menyentuh dadanya dan kutekan pelan. Ia masih diam saja. Kupegang tangannya yang ada di pahanya, kubalik telapak tangannya dan kumainkan jarinya. Ia tersenyum. Sebuah permulaan yang baik, pikirku. Akhirnya di sepanjang perjalanan tanganku terus menyikut dadanya, jariku meremas jarinya dan mempermainkan telapak tangannya. Lanjut baca!

  Aopok.com  -  Hari libur aku bingung mau kemana. Akhirnya kuputuskan mengikuti saja kemana kaki ini melangkah. Akhirnya menjelang siang ak...
Linda Lendir Selasa, 10 Februari 2026
Cerita Vagina

Aopok.com – Cerita Bokep, Kisah Bokep, Novel Bokep, Cerita Sex: Perkasanya Sopir Pribadiku Berita Bokep, Info Bokep, Majalah Bokep, Cerpen Bokep, Cerita Dewasa, Cerita Sex, Cerita Ngentot, Kisah Dewasa, kisah Sex, Kisah Ngentot, Majalah Dewasa, Humor Dewasa, Koran Sex Terbaru dan Terlengkap.


” oooohhhhh…..oooohhhhh….” pak Darman mendesah ketika aku mengulum penisnya nya.
Pak Darman menarik bahuku, dan mendorong tubuhku ke ranjang, aku tengkurap di ranjang , dgn posisi setengah badan di ranjang dan kaki ku menjuntai ke lantai.
Pak Darman menarik ke duah kakiku agar melebar pak Darman kemudian sedikit menurun kan badan nya, memukul mukul kan batang itu ke bongkohan pantat ku.

Cerita Sex Virgin: Perkasanya Sopir Pribadiku

” oooohhhhh…pak ….ayo pak …aku sdh tdk tahan jangan permain kan aku pak” kata ku melas.
pak Darman membalik kan badanku , kemudian pak Darman mennusuk kan gada yg merah itu ke lubang meqiku.
” oooooggghhhhhh….pak sakit pak…sakit…” teriak ku saat penis bear tu mencoba menyeruak masuk, aku mendorong kaki pak Darman dgn kaki ku agar menjauh.
Pak Darman adalah sopir bribadiku yg sdh lama kerja di rumahku. Sore itu pak Darman mengantarku ke kantor notaris, karena ada urusan yg harus aku selesai kan. Aku duduk di jok belakang, tiba-tiba saja aku mengamati pak Darman yg selama ini menjadi sopir keluargaku.”hhmmmm…ternyata dia boleh juga, badan dia kekar dan berotot, palagi itu nya yah…pasti nyummi” pikiran pikiran kotor mulai mempermainkanotakku.
“pak Darman…dah berapa lama sih menikah kok belum punya anak” pancingku
” 16 tahun Bu” jawab nya singkat
” kok lom punya anak…pasti Pak Darman kurang genjotan nya” kataku mulai menjuru
” siapa bilang bu…orang saya paling jago di ranjang…istri saya saja kadang minta ampun nangis nangis” jawab nya

Aku dan pak Darman memang dari dulu suka bicara blak blakan tp baru kali ini menjurus ke sola ranjang.. Baca selengkapnya...!!

Aopok.com – Cerita Bokep, Kisah Bokep, Novel Bokep,  Cerita Sex: Perkasanya Sopir Pribadiku  ,  Berita Bokep, Info Bokep, Majalah Bokep, Ce...
Linda Lendir Selasa, 15 November 2016

Follow Me